Saya adalah salah satu orang yang sulit untuk merancang masa depan. Mau jadi apa saya 10 tahun kedepan? Akan jadi apakah saya dalam 4 tahun kedepan? Akan berada dimana saya 2 tahun kedepan? Apa yang saya kerjakan 5 tahun kedepan? Jawabannya hanya satu yaitu, saya tidak tahu. Yang saya rasakan saat ini adalah wajar kalau saya tidak tahu.Terlebih teman-teman sepermainan saya pun berpikiran samayaitu tidak tahu apa yang akan dia kerjakan kedepan sehingga saya merasa normal-normal saja memiliki pemikiran seperti itu.

Namun pemikiran tersebut berubah menjadi krusial ketika suatu bencana menimpa keluarga saya. Ya, ayah saya menderita penyakit yang menurut saya adalah suatu momok yang menakutkan. Beliau, divonis menderita penyakit diabetes mellitus tipe 2. Iya diabetes yang merenggut hampir 25 kg berat badan ayah saya hanya dalam kurun waktu 2 bulan saja. Seketika saya merenung, merasa ketakutan, gelisah tidak karuan. Harus menerima kenyataan melihat ayah saya yang harus rela tubuhnya disuntikan makhluk hidup berupa insulin setiap harinya hingga 2 kali banyaknya.  Dan harus ikhlas mengalokasikan pembelajaan bulanan hasil kerja PNS ayah saya untuk biaya pengobatan. Ya Allah betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh keluarga kami. Mungkin ini cara Allah menyayangi diri saya beserta keluarga saya, karena saya yakin Allah mencintai hambanya juga dengan cara memberi cobaan.

Sebagai anak laki-laki tertua dikeluarga saya sadar diri harus mempersiapkan segala kemungkinan yang ada. Maka saya mulai memikirkan kembali pertanyaan-pertanyaan tadi. Seketika berubah merujuk kesatu pernyataan saya harus menjadi apa. Ya saya mahasiswa akhir dengan umur 21 tahun harus dan wajib menjadi “apa”. Harus menjadi “apa” yang bisa meringankan beban orang tua saya, setidaknya tidak menyusahkan beliau. Harus menjadi “apa” yang dicita-citakan orangtua saya melihat saya wisuda secepatnya. Harus menjadi “apa” yang mendapat pekerjaan dengan gaji yang bisa memenuhi segala kebutuhan orangtua,adik laki-laki saya serta saya. Harus menjadi “apa” yang selalu  mendoakan orangtua saya. Sehingga pertanyaan diatas menghasilkan satu pertanyaan yang sangat besar, apa yang harus saya lakukan esok hari?

“Sometimes it’s hard to find motivation, but sometimes motivation finds you!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s